Selasa, 18 Maret 2008

Bina Rumah Tangga

Solusi Problem Keluarga

Tampilan awal situs ini sudah menunjukkan gambaran isinya yang dikhususkan untuk keluarga. Ada menu parents, kids, dan teens. Bila Anda orang tua, klik saja ikon parents. Di dalamnya bisa ditemukan hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang mengasuh anak.

www.kidshealth.org

Solusi Problem Keluarga

Tampilan awal situs ini sudah menunjukkan gambaran isinya yang dikhususkan untuk keluarga. Ada menu parents, kids, dan teens. Bila Anda orang tua, klik saja ikon parents. Di dalamnya bisa ditemukan hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang mengasuh anak. Penjelasan mengenai kondisi dan penyakit anak, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, disajikan dalam general health. Misalnya, penjelasan mengenai penanganan patah tulang, atau mengenali macam-macam sakit kepala pada anak.

Pada sick kids, Anda bisa mengetahui kapan anak perlu pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan apa saja yang diperlukan. Tentang emosi dan perilaku anak, serta cara berkomunikasi dengan anak sesuai usianya, bisa didapatkan di emotion & behaviour. Untuk yang berencana untuk punya momongan, persiapkan diri Anda menghadapi kehamilan dan menyambut si buah hati dengan informasi dari pregnancy & newborns.

Anak Anda juga bisa langsung menjelajahi situs ini, klik saja kids. Ditampilkan menarik dengan gambar lucu dan warna-warni, topiknya juga disampaikan dengan bahasa yang disesuaikan untuk anak. Tentunya, kalau anak Anda sudah bisa berbahasa Inggris. Dalam dealing with feelings, anak-anak bisa belajar mengatasi rasa takut, mimpi buruk, bahkan mempersiapkan diri menghadapi ayah atau ibu tiri.

Lewat everyday illnesses & injury, anak-anak bisa mengetahui tentang penyakit atau cedera yang dideritanya. Misalnya, operasi amandel. Sebelum dioperasi, sebaiknya mereka membaca dahulu kenapa sampai perlu dioperasi, dan bagaimana sih operasi tersebut dilakukan. Cara bersepeda dengan aman juga dijelaskan dalam watch out. Yang unik lagi, ada juga resep-resep masakan yang mudah dipahami anak-anak.

Sebenarnya para orang tua perlu juga mengunjungi halaman kids ini. Mengingat anak-anak zaman sekarang cenderung banyak bertanya dan kritis, rasanya Anda harus mempersiapkan diri dengan jawaban yang tepat, dapat mereka terima dan pahami.

Tak lupa juga disediakan halaman khusus untuk para ABG pada teens. Topik yang disajikan pun disesuaikan dengan masalah pada usia remaja. Misalnya, dalam body basic, dijelaskan risiko mentato atau menindik tubuh, juga bagaimana mencegah dan mengobati jerawat. Cara menghadapi masalah di sekolah, dengan teman atau orang tua dipaparkan dalam mind matters.

Remaja tentunya mulai mengenal masalah seksual. Mungkin mereka enggan bertanya kepada orang tuanya. Nah, daripada mereka mendapatkan informasi yang salah, perlu juga sexual health dikunjungi. Di dalamnya dijelaskan mengenai segala sesuatu tentang menstruasi, mimpi basah, sampai masalah keperawanan.

Tak ketinggalan tentang aneka penyakit akibat hubungan seksual, serta keluarga berencana. Masalah rokok atau penyalahgunaan obat-obatan juga bisa diperoleh di staying safe. Pokoknya, situs satu ini sangat lengkap, padat, dan pastinya bermanfaat.

Membongkar Kesesatan Doraemon Cs

Penulis : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 38 Tahun I

Kategori : Bina Rumah Tangga

Anak-anak ibarat "kertas putih" yang dapat dituliskan apa saja pada dirinya. Pada masa anak-anak, apa saja yang dilihat dan didengar dapat membekas di dalam sanubarinya yang masih polos, jika telah terukir di dalam hatinya, akan tergambar dan tersalurkan jika kelak mereka menjadi dewasa. Tidak dipungkiri lagi, banyak beredar kisah-kisah menarik yang dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak; kebanyakannya termasuk kisah-kisah fiktif yang dibumbui dengan cerita-cerita kebohongan, syirik, kebobrokan akhlaq, dan gambar bernyawa.
Walhasil, kita dapat melihat betapa banyak anak-anak muslim yang lebih mengenal tokoh-tokoh fiktif hasil produksi orang-orang kafir daripada mengenal tokoh-tokoh muslim, seperti para sahabat, dan ulama’ Salaf; betapa banyak anak-anak muslim yang menghafal cerita-cerita khurafat dibandingkan kisah-kisah penuh ibroh (pelajaran) yang telah diceritakan dan diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-Ketika anak-anak bergerombol di depan televisi tak ada satu orang tua pun yang bergeming dan prihatin sikap anak-anaknya. Padahal apabila kita perhatikan, maka nasib anak-anak kita berada dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, sementara film-film kartun tersebut mengajarkan kepada mereka pelanggaran-pelanggaran syariat Allah dan Rasul-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam-Tulisan yang ada di depan Anda ini akan membongkar kesesatan, dan penyimpangan beberapa film kartun yang paling populer di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan dan meninabobokkan cikal bakal umat ini.

Doraemon si Boneka Ajaib

Konon kabarnya, Doraemon bisa pergi menjelajah di masa lalu dan di masa yang akan datang. Katanya, ia dapat mengadakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dengan "kantong ajaibnya". Dalam kartun, ia digambarkan sebagai tempat untuk dimintai segala sesuatu yang ghaib oleh temannya. Lihatlah bagaiman film kartun tersebut betul-betul menyimpang dari aqidah.Segala sesuatu telah ditetapkan waktu dan ajalnya oleh Allah -Ta’ala-. Makhluk tak mampu mengatur waktu, baik itu memajukannya atau mengundurkannya. Makhluk tak akan mampu menyebrang dari zaman kekinian menuju zaman lampau atau sebaliknya.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya". (QS. Al-A’raaf: 34)

Kartun Doraemon telah mengajarkan aqidah (keyakinan) batil dalam benak anak-anak kita tentang adanya makhluk yang memiliki kemampuan yang menyamai Allah -Ta’ala- ; makhluk ini mampu mengadakan segala sesuatu yang belum ada menjadi ada. Padahal telah paten dalam Al-Qur’an dan Sunnah bahwa tak ada makhluk yang mampu melakukan segala sesuatu yang ia kehendaki, karena itu semua ada dalam kekuasaan Allah; itu hanyalah sifat yang dimiliki Allah. Dia berfirman,

"Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya". (QS. Al-Baqoroh:253)

" Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki". (QS.Huud :107)

Tak terasa si Doraemon pun mengajari anak kecil untuk meminta dan berdoa kepada selain Allah dalam perkara yang tak mampu dilakukan oleh seorang makhluk, hanya bisa dilakukan oleh Allah -Ta’ala- . Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

"Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyeru (berdoa) kepada seseorangpun di dalamnya di samping Allah". (QS. Al-Jin:18 ).

Abu Abdillah Al-Qurthubiy-rahimahullah- berkata, "Firman Allah ini adalah celaan bagi orang-orang musyrikin saat mereka berdoa kepada selain Allah di samping Allah di Masjidil Haram. Mujahid berkata, "Dulu orang-orang Yahudi dan Nashrani, jika masuk ke gereja, dan kuil mereka, maka mereka mempersekutukan Allah (dalam beribadah). Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya, dan kaum mukminin agar mereka memurnikan doanya hanya kepada Allah, jika mereka masuk ke semua masjid". [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (19/21)]

* Dragon Ball

Cerita ini dalam film ini banyak mengandung unsur kebatilan, seperti adanya penyembahan dewa-dewa seperti Dewa Emperor, Dewa Bumi, Dewa Gunung, Dewa Naga, dan lain-lain. Keyakinan ini seluruhnya berasal dari agama Budha, Hindu dan Shinto yang penuh dengan kebatilan dan kesesatan, sementara Allah hanyalah meridhoi Islam sebagai agama yang benar.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imron : 19)

Mufassir ulung, Al-Imam Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata, "Firman Allah -Ta’ala- tersebut merupakan pengabaran dari-Nya bahwa tak ada agama di sisi-Nya yang Dia terima dari seorang pun selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul dalam perkara yang mereka diutus oleh Allah dengannya dalam setiap zaman sampai mereka (para rasul itu) ditutup dengan Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang telah menutup semua jalan menuju kepada-Nya, selain dari arah Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam-. Barangsiapa yang setelah diutusnya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Allah dengan suatu agama yang tidak berdasarkan syari’atnya, maka agama itu tak akan diterima". [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (1/471)]

Jadi, agama apapun selain Islam, seperti agama Buddha, Hindu, Shinto, dan lainnya, semuanya tak akan diterima oleh Allah, dan pelakunya akan merugi, karena kekafiran dirinya. Allah -Ta’ala- berfirman,
"Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". (QS. Ali Imron: 85 )
Seorang Imam Ahli Tafsir, Abul Fadhl Mahmud Al-Alusiy-rahimahullah- berkata dalam menafsirkan ayat ini, "Allah -Ta’ala- menjelaskan bahwa barangsiapa yang–setelah diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memilih selain syari’at beliau, maka agama itu tak akan diterima darinya. Sedangkan diterimanya sesuatu adalah diridhoinya, dan diberikannya balasan bagi pelakunya atas perbuatan itu". [Lihat Ruh Al-Ma’aniy (3/215)]

Jika kita telah mengetahui kebatilan agama selain Islam, maka tak layak bagi kita dan anak-anak kita untuk berbangga, meniru, dan memuji orang-orang kafir itu, dan gaya hidup mereka, apalagi sampai memilih agama mereka sebagai pedoman hidup !! Jauhkanlah anak-anak kita dari orang-orang kafir, jangan sampai mereka bangga dengan orang-orang kafir. Bersihkanlah mulut dan telinga mereka dari istilah-istilah orang-orang kafir, dan paganisme dengan jalan membersihkan rumah kita dari benda pembawa petaka (televisi) yang berisi tayangan yang mendangkalkan, bahkan menghanguskan agama. Kita harus baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, dan sembahan-sembahan mereka,"Sesungguhnya Telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu, dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja". (QS. Al-Mumtahanah: 04).

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar punya pendirian terhadap orang-orang kafir. Kita harus tegas dalam menampakkan keyakinan kita. Jangan malah kita yang bangga dan tertipu dengan kekafiran mereka, karena hanya sekedar kemajuan semu yang mereka capai di dunia ini. Allah -Ta’ala- berfirman,"Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri-negeri". (QS.Ali Imran : 196).
Imam Para Ahli Tafsir, Abu Ja’far Ath-Thobariy-rahimahullah- berkata, "Allah -Ta’ala Dzikruh- melarang Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar jangan tertipu dengan bergerak (bebas)nya orang-orang kafir di negeri-negeri, dan penangguhan Allah bagi mereka, padahal mereka berbuat syirik, mengingkari nikmat-nikmat-Nya, dan beribadahnya mereka kepada selain-Nya". [Lihat Jami’ Al-Bayan (3/557)]
Jadi, bebasnya mereka di muka bumi ini, dan majunya mereka dalam segala lini kehidupan jangan membuat kita tertipu dengan mereka, sehingga akhirnya tak lagi mengingkari kekafiran mereka, dan malah memilih sikap toleran bersama mereka dalam urusan agama (aqidah, ibadah, akhlaq, dan lainnya).

* Sincan (Simbol Anak Durhaka)
Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan tersebut, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.

Allah -Ta’ala- berfirman,

"Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". (QS. Al-Isroo’: 23 ).Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebutkan diantara dosa-dosa besar,"Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua". Kemudian Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, "Ingatlah, dan juga perkataan dusta". [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2511), Muslim Shohih-nya (87), At-Tirmidziy Sunan-nya (1901), Ahmad Musnad-nya (20401)]
Abu Amr Ibnush Sholah-rahimahullah- berkata, "Mungkin bisa dikatakan, Taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat; menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan". [Lihat Umdah Al-Qoriy (13/216)]

Jadi, termasuk dosa besar, jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna !!
Inilah beberapa kesesatan film-film kartun tersebut. Namun kesalahan dan kesesatannya, sebenarnya masih banyak. Andaikan waktu dan tempat mencukupi, maka kami akan paparkan secara rinci sesuai tinjauan Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi sesuatu yang tak bisa dikerja dominannya, ya jangan ditinggalkan semuanya. Semoga pada waktu yang lain kami akan bahas kembali, Insya Allah.

www.almakassari.com


Sudahkah Aku Tulus Kepada Dia shalallahu 'alaihi wasallam?‎

Penulis : Abu Khaulah Zainal Abidin

Kategori : Cermin Akhlaq

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْمَرْضَى وَلا عَلَى الَّذِينَ لا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ

إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ (التوبة: من الآية91)

)Artinya: Tiada berdosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tak memiliki apapun yang dapat mereka nafkahkan, selagi mereka berlaku ikhlas kepada ALLAH dan Rasul- NYA) (At-Taubah:91)

dc

Wujud ketulusan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang aku ketahui dari penjelasan Imam Al Qurthuby rahimahullah di dalam tafsirnya:

Pertama:Membenarkan kenabiannya.“

Tentu saja itu artinya aku harus mengakui segala sifat dan atribut yang melekat pada diri Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul-ALLAH. Bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang amanah, mustahil khianat. Beliau seorang yang jujur, mustahil pendusta. Beliau seorang mubaligh (menyampaikan ilmu), mustahil kitman (menyembunyikan ilmu). Beliau arif, mustahil ahmaq (pandir).

Dengan pengakuan itu semua, maka tak ada alasan dan kesempatan bagiku untuk memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui, atau Beliau lupa, bahkan sengaja tidak menyampaikan kepada ummatnya. Bukankah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan:

ما بقي شيء يقرب إلى الجنة ويباعد من النار إلاوقد بين لكم (اخرجه الطبراني)

(“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.”)

Membenarkan kenabiannya juga artinya tidak menuduh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghianat Ar-Risalah. Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menghianati Ar-Risalah? Siapa yang begitu lancang, berani, dan tega menuduh semacam itu ? Tentu saja tak seorangpun berani atau tega sengaja berkata seperti itu. Ya, memang lidahku tak mungkin mengucapkannya. Tetapi, boleh jadi perbuatanku yang menunjukkan tuduhan tersebut. Yakni, manakala aku menganggap ada kebaikan pada perkara-perkara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Aku ingat betul apa yang dikatakan oleh Al Imam Malik rahimahullah:

من أبتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة, فقد زعم أن محمد r خان الرسالة. لأن الله يقول:

اليم أكملت لكم دينكم. فما لم يكن حينئذ دينا فلا يكون اليوم دينا

(Barangsiapa berbuat bid’ad di dalam Al Islam, kemudian ia menganggap itu sebagai sesuatu yang baik. Maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwasanya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam penghianat Ar-Risalah. Karena sesungguhnya ALLAH telah berfirman: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi mu agamamu.” Maka yang ketika itu bukan merupakan bagian dari agama Islam, sampai hari ini pun bukan bagian dari agama Islam) (Al I’tisham:I/49)

Sudahkah aku?

Ke-dua: “Senantiasa menta’ati perintah dan larangannya.”

Rasulullah j bersabda:

ما نهيتكم عنه فاجتنبه. وما أمرتكم به فأتوا منه مااستطعتم

(Apa saja yang aku larang kalian atas nya, jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian akan nya, maka kerjakanlah sekuat kemampuanmu...) (HR: Al Bukhari dan Muslim)

Tentu saja bukan perkara mudah bagi ku untuk senantiasa di dalam keta’atan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun aku senantiasa berharap agar termasuk orang-orang tulus kepada dia. Karena menta’ati Rasulullah merupakan bukti dari ketaatanku kepada ALLAH sbahanahu wa ta’ala (Artinya: Barangsiapa menta’ati Ar-Rasul, maka sesungguhnya ia telah menta’ati ALLAH...)(An-Nisaa’:80)

Menta’ati Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga artinya menta’ati para ulama dan orang-orang yang diberi amanah mengurus ummat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sendirilah yang menyatakan demikian:

عن أبي هريرة عن رسول الله r أنه قال: من اطاعني فقد اطاع الله. ومن عصاني فقد عصى الله.

ومن اطاع أميري فقد اطاعني ومن عصا أميري فقد عصاني (البخاري)

(Barangsiapa yang ta’at kepada ku, berarti telah ta’at kepada ALLAH. Dan barangsiapa yang menentang aku, berarti ia menentang ALLAH. Barangsiapa yang ta’at kepada amirku, berarti ia telah ta’at kepadaku. Dan barangsiapa yang menentang amirku, berarti ia menentang aku.)

Sudahkah aku?

Ke-tiga: “Membela yang membelanya, memusuhi yang memusuhinya.”

Tentu saja yang dimaksud dengan pembelanya adalah mereka yang membela dan mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang dimaksud dengan musuhnya adalah mereka yang menentang dan memerangi ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka di antara tanda ketulusanku kepada Beliau, adalah dengan membela dan mendukung mereka yang mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan membenci mereka yang menentang ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tak layak bagiku untuk merasa benci terhadap mereka yang mencintai Sunnah Rasulullah shaJuga aneh rasanya, jika aku gelisah melihat semangat mereka dan kebanggaan mereka akan Sunnah. Bahkan, seharusnya aku bersuka cita melihat semakin banyak dan nampak orang-orang yang membela Sunnah.

Begitu pula, aneh rasanya jika aku tak merasa resah dan gerah melihat kebid’ahan semakin marak. Terlebih lagi aneh, jika setelah aku mengetahui bahwa tidaklah Bid’ah itu diadakan kecuali dalam rangka mematikan Sunnah, kemudian aku membiarkan saja itu terjadi dan terus-menerus berkasih sayang dengan pembunuh-pembunuh Sunnah.

Sudahkah aku?

Ke-empat: “Mengagungkan Beliau dan mengagungkan Sunnahnya.”

Sungguh, tak ada pribadi yang lebih agung dari beliau dan tak ada teladan yang lebih baik dari pada Sunnahnya. ALLAH subahanahu wa ta’ala menegaskan:

(Artinya: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) memiliki budi pekerti yang agung) (Al Qalam:4)

(Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan ALLAH dan Hari Akhir serta banyak mengingat ALLAH) (Al Ahzab:21)

Melalui ayat-ayat di atas sadarlah aku, bahwa kalaupun aku tak mengagungkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga Sunnahnya, bahkan -na’udzubillah- seandainya aku hinakan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, maka Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam beserta Sunnahnya tetaplah senantiasa agung, sebagaimana tak ada yang mampu mengubah, mengurangi atau menambah firman-ALLAH.

ALLAH itu Akbar (Maha Besar) dan senantiasa Akbar, meski seluruh makhluq-NYA -dari awal penciptaan sampai yang terakhir, dari kalangan manusia beserta jin- tidak bertakbir. Namun demikian tetaplah kita wajib bertakbir. Bukan untuk ALLAH, tetapi demi keselamatan kita sendiri.

Begitu pula dengan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, senantiasa agung meskipun seluruh manusia merendahkan dan mencelanya. Namun demikian, tetaplah kita wajib mengagungkannya. Bukan untuk Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sebagai tanda ketulusan kita kepada nya.

Tentu saja tidak termasuk tulus kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, manakala aku merasa hina dan malu menjalankan Sunnah. Lantas untuk apa ALLAH subahanahu wa ta’ala menerangkan tentang keagungan dan keteladanan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jika kemudian aku malu untuk hidup dengan cara hidup Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam?

Sudahkah aku?

Ke-lima: “Memelihara Sunnah Beliau setelah Beliau tiada.”

)Artinya: Tiada berdosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tak memiliki apapun yang dapat mereka nafkahkan, selagi mereka berlaku ikhlas kepada ALLAH dan Rasul- NYA) (At-Taubah:91)

Wujud ketulusan kepada Rasulullah j sebagaimana yang aku ketahui dari penjelasan Imam Al Qurthuby rahimahullah di dalam tafsirnya:

Tentu saja itu artinya aku harus mengakui segala sifat dan atribut yang melekat pada diri Muhammad j sebagai rasul-ALLAH. Bahwa Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang amanah, mustahil khianat. Beliau seorang yang jujur, mustahil pendusta. Beliau seorang mubaligh (menyampaikan ilmu), mustahil kitman (menyembunyikan ilmu). Beliau arif, mustahil ahmaq (pandir).

Dengan pengakuan itu semua, maka tak ada alasan dan kesempatan bagiku untuk memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan yang Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui, atau Beliau lupa, bahkan sengaja tidak menyampaikan kepada ummatnya. Bukankah Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengatakan:

(“Tidak tertinggal sedikitpun perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali telah aku jelaskan bagi kalian.”)

Membenarkan kenabiannya juga artinya tidak menuduh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghianat Ar-Risalah. Muhammad shalallahu ‘alahi wasallam menghianati Ar-Risalah? Siapa yang begitu lancang, berani, dan tega menuduh semacam itu ? Tentu saja tak seorangpun berani atau tega sengaja berkata seperti itu. Ya, memang lidahku tak mungkin mengucapkannya. Tetapi, boleh jadi perbuatanku yang menunjukkan tuduhan tersebut. Yakni, manakala aku menganggap ada kebaikan pada perkara-perkara ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Aku ingat betul apa yang dikatakan oleh Al Imam Malik rahimahullah:

(Barangsiapa berbuat bid’ad di dalam Al Islam, kemudian ia menganggap itu sebagai sesuatu yang baik. Maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwasanya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam penghianat Ar-Risalah. Karena sesungguhnya ALLAH telah berfirman: “Hari ini telah Aku sempurnakan bagi mu agamamu.” Maka yang ketika itu bukan merupakan bagian dari agama Islam, sampai hari ini pun bukan bagian dari agama Islam) (Al I’tisham:I/49)

Sudahkah aku?

Rasulullah j bersabda:

(Apa saja yang aku larang kalian atas nya, jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kalian akan nya, maka kerjakanlah sekuat kemampuanmu...) (HR: Al Bukhari dan Muslim)

Tentu saja bukan perkara mudah bagi ku untuk senantiasa di dalam keta’atan kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun aku senantiasa berharap agar termasuk orang-orang tulus kepada dia. Karena menta’ati Rasulullah merupakan bukti dari ketaatanku kepada ALLAH subahanahu wa ta’ala:

(Artinya: Barangsiapa menta’ati Ar-Rasul, maka sesungguhnya ia telah menta’ati ALLAH...)(An-Nisaa’:80)

Menta’ati Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam juga artinya menta’ati para ulama dan orang-orang yang diberi amanah mengurus ummat. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam sendirilah yang menyatakan demikian:

(Barangsiapa yang ta’at kepada ku, berarti telah ta’at kepada ALLAH. Dan barangsiapa yang menentang aku, berarti ia menentang ALLAH. Barangsiapa yang ta’at kepada amirku, berarti ia telah ta’at kepadaku. Dan barangsiapa yang menentang amirku, berarti ia menentang aku.)

Sudahkah aku?

Tentu saja yang dimaksud dengan pembelanya adalah mereka yang membela dan mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang dimaksud dengan musuhnya adalah mereka yang menentang dan memerangi ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka di antara tanda ketulusanku kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, adalah dengan membela dan mendukung mereka yang mengusung ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan membenci mereka yang menentang ajaran Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tak layak bagiku untuk merasa benci terhadap mereka yang mencintai Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Juga aneh rasanya, jika aku gelisah melihat semangat mereka dan kebanggaan mereka akan Sunnah. Bahkan, seharusnya aku bersuka cita melihat semakin banyak dan nampak orang-orang yang membela Sunnah.

Begitu pula, aneh rasanya jika aku tak merasa resah dan gerah melihat kebid’ahan semakin marak. Terlebih lagi aneh, jika setelah aku mengetahui bahwa tidaklah Bid’ah itu diadakan kecuali dalam rangka mematikan Sunnah, kemudian aku membiarkan saja itu terjadi dan terus-menerus berkasih sayang dengan pembunuh-pembunuh Sunnah.

Sudahkah aku?

Sungguh, tak ada pribadi yang lebih agung dari beliau dan tak ada teladan yang lebih baik dari pada Sunnahnya. ALLAH subahanahu wa ta’ala menegaskan:

(Artinya: Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) memiliki budi pekerti yang agung) (Al Qalam:4)

(Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan ALLAH dan Hari Akhir serta banyak mengingat ALLAH) (Al Ahzab:21)

Melalui ayat-ayat di atas sadarlah aku, bahwa kalaupun aku tak mengagungkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan juga Sunnahnya, bahkan -na’udzubillah- seandainya aku hinakan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, maka Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam beserta Sunnahnya tetaplah senantiasa agung, sebagaimana tak ada yang mampu mengubah, mengurangi atau menambah firman-ALLAH.

ALLAH itu Akbar (Maha Besar) dan senantiasa Akbar, meski seluruh makhluq-NYA -dari awal penciptaan sampai yang terakhir, dari kalangan manusia beserta jin- tidak bertakbir. Namun demikian tetaplah kita wajib bertakbir. Bukan untuk ALLAH, tetapi demi keselamatan kita sendiri.

Begitu pula dengan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnahnya, senantiasa agung meskipun seluruh manusia merendahkan dan mencelanya. Namun demikian, tetaplah kita wajib mengagungkannya. Bukan untuk Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sebagai tanda ketulusan kita kepada nya.

Tentu saja tidak termasuk tulus kepada Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, manakala aku merasa hina dan malu menjalankan Sunnah. Lantas untuk apa ALLAH subahanahu wa ta’ala menerangkan tentang keagungan dan keteladanan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jika kemudian aku malu untuk hidup dengan cara hidup Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam?

Sudahkah aku?

lima: “Memelihara Sunnah Beliau

Memelihara dan senantiasa menghidupkan Sunnahnya setelah kematian Beliau r tentu “ dengan membahasnya, mengambil fiqh dari nya, memelihara kemurniannya, menyebarkannya, mengajak manusia kepada nya, dan berakhlaq dengan akhlaq Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang karimah.”

Ya, sudahkah aku tulus kepada dia?

Buletin Jum'at Risalah Tauhid -Depok-